BREAKING NEWS

From our Blog

Selasa, 14 Oktober 2014

Asal Usul Desa Gamel

Asal Usul Desa Gamel - Di suatu pedukuhan terpencil di Cirebon terdapat sebuah perguruanyang cukup disegani, dan yang menjadi guru adalah Ki Maja atau dikenal dengan nama Ki Syekh Madegal. Ia mempunyai seorang anak angkat bernama Nyi Damar jati, yang kelak menurunkan keturunan Ki Ageng Trusmi.

Ki Maja mempunyai keturunan bernama Ki Syekh Hindu Aji dari Pajajaran. Ki Syekh Hibdu Jati kemudian mempunyai dua orang murid pula yaitu Tuan Barep dan Tuan Uju.
Tuan Uju mempunyai keturunan bernama Ki Suradinata yang disebut juga Ki Gamel. Nama GAMEL diambil dari seekor kuda milik Sultan Cirebon yang dipelihara oleh Ki Suradinata, karena pada masa ituKi Gamel adalah satu-satunya orang yang paling pandai memelihara kuda.
Tersiar kabar bahwa Sultan Mataram mengalami kesulitan karena kuda-kuda balatentara Mataram terserang wabah penyakit yang sulit di sembuhkan, termasuk kuda milik Sultan Mataram. Oleh karena itu, setelah Sultan Mataram mendengar di daerah Cirebon ada orang yang pandai memelihara kuda, ia mengirim utusan kepada Sultan Cirebon untuk memohon ijin agar salah seorang warganya, yakni Ki Gamel dapat berangkat ke Mataram untuk mengobati kuda-kuda milik Kerajaan Mataram. Dengan kebesran hati Sultan Cirebon, Ki gamel yang tenaganya sangat di butuhkan itu diijinkan pergi ke Mataram.
Ki Gamel memelihara dan merawat kuda – kuda yang sakit dengan tekun dan telaten hingga banyak yang sembuh termasuk kuda milik Sultan Mataram. Oleh karena keberhasilannya itulah Sultan Mataram memberi hadiah berupa seperangkan Gamelan renteng. Selanjutnya gamelan renteng di tusuk dengan tangkai padi, dan Ki Gamel berpamitan segera kembali ke Cirebon.
Ketika Keraton Cirebon dibagi menjadi tiga, yaitu Keraton Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan, Ki Gamel ikut kepada Sultan Kanoman. Ki Gamel sangat setia dan patuh kepada Sultan Kanoman sehingga hubungan antara keduanya seperti murid dengan guru, atau anak dengan bapak.
Pada suatu saat  Ki Gamel diperintahkan untuk mengambil surat kesultanan di Keraton Mataram. Setibanya di Mataram surat itu ternyata dibawa oleh Belanda ke jakarta. Kemudian Ki Gamel berangkat ke Jakarta konon dengan naik “Mancung”(Pelepah pembungkus bunga kelapa). Ada pula yang menyebutkan ia naik “Buyung” (tempat mengambil air yang terbuat dari tembaga), atau naik “ Bakiak/Gamparan” (Sandal yang terbuat dari kayu.
Setelah Ki Gamel mendapatkan surat yang dimaksud, kemudian ia diangkat menjadi kuwu di daerah yang kemudian disebut Desa Gamel. Sementara itu hubungannya dengan Sultan Kanoman semakin harmonis, samapi-sampai Sultan Kanoman sering berkunjung ke Desa Gamel. Tempat pertemuan dan ngobrol –ngobrol keduanya adalah di Bale Panjang pemberian Sultan Kanoman yang diambil dari Kaliandul. Kemudian Sultan kanoman menyuruh membuat mesjid dimana seluruh bahan dan peralatannya disediakan Sultan Kanoman. Pembuatan mesjid  itu diperkirakan tahun 1018 M.

Senin, 13 Oktober 2014

Asal Usul Desa Cipeujeuh

Asal  Usul Desa Cipeujeuh - Nama Cipeujeuh itu berasal dari dua kata, Ci artinya cai atau air dan Pejeuh adalah nama pohon. Jadi Cipeujeuh merupakan air yang keluar dari bawah pohon pejeuh dan sekarang pohon itu masih ada di samping pancuran air pejeuh, yang merupakan sumber air bagi masyarakat sekitarnya.

Ada beberapa nama tempat yang diawali kata-kata Ci, seperti Citaman, Cidadap, Cipadudan, Ciwado, Cimalayang, Cibangban, Cileuis, Cipelus, Cibalong, Cikalapa, Cisuruh dan Ciputih. Dengan kata-kata yang menjadi nama tempat itu artinya air yang menandakan kebersihan dan kejernihan dalam arti yang seluas-luasnya.

Desa Cipeujeuh itu didirikan oleh seorang pemimpin yang dikenal dengan nama Buyut Racak, dan pemukimannya yang pertama berada disebelah timur Kampung Cidadap. Disitu sekarang terdapat sungai yang bernama Cipadudan dan Cimalaya. Kemudian pemukiman itu pindah tempat ke kampung yang namanya Karacak, dan disitulah kehidupan masyarakat yang aman tentram, subur makmur luh jinawi.

Sepeninggal Buyut Racak, kepemimpinan digantikan oleh seorang yang dikenal sakti mandraguna yaitu Buyut Balida. Kata-kata Balida sebenarnya dari nama sebuah ikan yang rasanya enak sekali dan mempunyai duri yang sangat keras.

Pada masa kepemimpinan Buyut Balida kehidupan masyarakatnya juga subur makmur, aman tentram kertaraharja. Namun tiba-tiba dikejutkan oleh berita mendengar kematian Buyut Balida ketika makan ikan Balida kareba ketelak.

Sebenarnya ini merupakan seloka yang menggambarkan bahwa Buyut Balida itu memakan uang rakyat yang seakan-akan memakan ikan Balida yang rasanya enak sekali, dan kemudian berakibat diturunkan dari kepemimpinan oleh masyarakat, namun sebelum turuntahta ia berpesan kepada masyarakat " Jangan sekali-kali makan Ikan Balida", artinya jangan sekali-kali korupsi uang rakyat.

Buyut Balida digantikan Buyut Jaben. Pada masa kepemimpinan Buyut Jaben sudah disebut-sebut keberadaan kompeni Belanda.

Pada waktu itu datang serombongan penagih pajak (upeti) ke perkampungannya Buyut Jaben. Kedatangan mereka disambut baik oleh Ki Buyut Jaben, dengan memberinya makan nasi dalam satu pendil kecil. Nasi tersebut tidak habis-habis walaupun yang makan banyak. Rombongan juga diberi ikan mas, tapi begitu ikan sudah dihidangkan ternyata ikan tersebut hidup kembali, sehingga para tamu tercengang menyaksikan kejadian tersebut. Setelah kejadian tersebut dilaporkan kepada Ki Buyut Jaben, spontan ikan tersebut kembali jadi masak dan bisa dimakan. Setelah makan, mereka ingin menikmati degan air kelapa. Lalu mereka menembaki kelapa dengan senapan, akan tetapi tak satupun mereka dapatkan. Akhirnya mereka melaporkan kembali kepada Buyut Jaben. Hanya dengan menunjukan telunjuknya ke arah pohon kelapa, tiba-tiba pohon kelapa itu melengkung dan menghampiri para serdadu yang ingin menikmati buah kelapa. Mereka memakan kelapa secukupnya, namun sungguh aneh meski begitu banyak kelapa yang dimakan, buah kelapa dari satu pohon tidak habis - habis. Setelah kejadian itu kompeni Belanda tidak lagi berani karena sangat segan kepada kesaktian Ki Buyut Jaben. Setelah kepemimpinan Ki Buyut Jaben tidak terdengar lagi siapa pengganti selanjutnya.

Pada zaman revolusi fisik dengan Belanda, Cipeujeuh pada waktu itu dipimpin oleh seorang Kuwu Dinda yang sebelumnya Kuwu Ibong.

Kuwu Dinda ini disebut juga denga Rekonka yang artinya kuwu itu ikut Belanda, sehingga selalu bertentangan dengan rakyat. Karena bertentangan dengan perjuangan rakyat yang menginginkan kemerdekaan.

Setelah penyerahan kedaulatan tahun 1950 yang menjadi Kuwu di Cipeujeuh adalah Kuwu Rusdi sampai tahun 1966. Dari Tahun 1966-1980 yang menjadi Kuwu adalah Eboy Carmin. Sekitar tahun 1980 dimekarkan menjadi dua desa yaitu Cipeujeuh Kulon dan Wetan. 

Minggu, 12 Oktober 2014

Asal Usul Desa Sindang Jawa

Asal Usul Desa Sindang Jawa - Pada abad XVII dikawasan hutan diwilayah Kerajaan Rajagaluh, terdapat sebuah kampung yang indah yang terletak di tepi sungai Cisoke. Masyarakatnya memberi nama Kampung Banjang Melati, dipimpin oleh Resi Pandunata seorang penganut agama Hindu yang memiliki seorang putri bernama Nyi Mas Indang Lara Sakti.

Sebelum Resi Pandunata wafat, pimpinan Kampung Banjar Melati terlebih dahulu diserahkan kepada Nyi Mas Indang Lara Sakti, sambil memberitahukan bahwa kelak akan datang orang orang Cirebon yang bertujuan menyebarkan agama Islam. resi Pandunata memberikan amanat agar putrinya dapat menerima tamu-tamu itu dengan sebaik-baiknya, rukun , dan apabila perlu mengikuti ajakannya.

Pada suatu waktu, berdatanglah prajurit Cirebon ke Kampung Banjar Melati untuk sekedar singgah dalam perjalanan pulang, setelah mereka berperang melawan Kerajaan Rajagaluh. Beberapa orang diantara mereka sangat terkesan akan keramah tamahan penduduknya disamping tertarik akan keindahan dan kesuburan alamnya, sehingga mereka ingin tinggal dan menetap disini sambil menyebarkan agama Islam. Diantara prajurit tersebut terdapat dua orang tokoh pemuda Islam, yaitu Wanajaya dan Pande Simpar.

Kedua pemuda tersebut menemui Nyi Mas Indang Lara Sakti untuk meminta izin sekaligus menyampaikan maksud dan tujuannya. Seperti pesan ayahandanya, Nyi Mas Indang Lara Sakti menerima dengan senang hati kedatangan kedua pemuda tersebut, bahkan ia bersedia dijadika ibu angkat. Atas bantuan kedua anak angkatnya itulah Nyi Mas Indang Lara Sakti berusaha memindahkan pasanggrahan Banjar Melati ke sebelah barat sungai Cisoka yang sekarang disebut Hulu Dayeuh.

Pasanggrahan baru itu dibuat dari kayu dari hasil penebangan hutan disekitarnya; sementara ranting dan dedaunan yang tidak terpakai dibakar. Ketika membakar ranting-ranting itu timbulah bencana kebakaran yang sangat dahsyat dimana kobaran api dan asapnya menjalar ke sebelah selatan hingga ke Kampung Cisaat.

Masyarakat Kampung Cisaat gempar dan panik, sehingga mengundang kemarahan Ki Surangga Bima. Terjadilah pertarungan antara Ki Surangga Bima dengan Ki Wanajaya dan Ki Pande Simpar, dimana kedua belah pihak sama-sama kuat, tidak ada yang akalh ataupun menang. Akhirnya Nyi Mas Indang Lara Sakto terjun ke kancah pertarungan mengeluarkan kesaktiannya untuk menghentikan perkelahian tersebut, dengan cara mengengkat dua buah batu besar yang dilemparkannya ke medan perkelahian.

Menyaksikan kesaktian Nyi Mas Indang Lara Sakti, kedua belah pihak yang sedang bertempur terkagum - kagum hingga langsung menghentikan perkelahian serta tunduk kepada Nyi Mas Indang Lara Sakti. Batu besar tersebut salah satunya disebut Batu Tumpeng, karena bentuknya seperti nasi tumpeng dengan tinggi kira kira 159 cm. Batu yang lainnya disebut Batu Kasur, karena bentuknya menyerupai kasur dengan panjang kira - kira 200 cm.

Ketiga tokoh tersebut oleh Nyi Mas Indang Lara Sakti diajak ke pasanggrahan Banjar Melati untuk mengadakan pertemuan, atau perundingan dengan kesepakatan sebagai berikut.
1. Kedua belah pihak yang bertikai akan hidup damai hingga turun temurun.
2. Kedua batu besar tadi dijadikan batas wilayah Kampung Banjar Melati dengan Kampung Cisaat.

untuk mengenang tempat pertemuan tersebut, Kampung Banjar Melati kemudian berganti nama menjadi Banjar Patoman, dari kata patemon (Bhs.Jawa) yang berarti tempat/lokasi pertemuan.

Pada sekitar tahun 629 tentara Sultan Agung dari Mataram mampir/sindang (Bhs. Sunda) di Banjar Patoman sepulangnya menyerang VOC di Batavia. Oleh karena mereka yang singgah itu berasal dari Jawa, penduduk disitu mengatakan tempat "Otang Jawa Sindang". Dengan peristiwa tersebut bergantilah Kampung Banjar Patoman dengan Kampung Sindang Jawa, yang sekarang menjadi Desa Sindang Jawa.

Dalam membangun Desa Sindang Jawa, Nyi Mas Indang Lara Sakti di bantu oleh :
1. Ki Wanajaya
2. Ki Pande Simpar
3. Ki Yuda Laksana yang membangun Blok Peuntas
4. Ki Wangsadikrama yang membangun Blok Umbul Balong
5. Ki Jamini ( Ki Panderesan) yang membangun Blok Kawung Luwuk
6. Ki Padmanegara yang membangun Blok Pamijen
7. Ki Tabroni yang membangun Blok Karadenan

Sabtu, 11 Oktober 2014

Asal Usul Desa Watubelah

Asal Usul Desa Watubelah - Pada saat Pangeran Walangsungsang menyebarkan agama Islam di daerah Cirebon, ia melihat kobaran api di sebuah hutan yang sekarang bernama Desa Watubelah. Setelah didekati ternyata hutan tersebut dibakar oleh Ki Patih Manik yang bermaksud membangun sebuah pedukuhan untuk memenuhi persyaratan agar dapat mempersunting Nyi Mas Serang yang cantik jelita, putri Ki Gede Mayaguna dan Nyi Gede Renda.

Ki Patih Manik adalah Patih Negeri Galuh yang mendapat perintah rajanya untuk menghambat Pangeran Walangsungsang menyiarkan agama Islam diwilayah negerinya. Pucuk dicinta ulam tiba, ketika Ki Patih Manik sedang membakar hutan, tiba-tiba datang Pangeran Walangsungsang yang memang sedang dicarinya. Pangeran Walangsungsang sangat hormat dan bersedia membantu Ki Patih Manik membangun pedukuhan, namun bukannya Ki Patih Manik menerimanya malahan sebaliknya mengancam Pangeran Walangsungsang agar tidak menyiarkan agama Islam.
Mendengar ancaman itu, Pangeran Walangsungsang menerangkan bahwa agama Islam mengajarkan para pemeluknya agar bersujud dan menyembah kepada Allah SWT, bukan kepada benda-benda yang dibuat manusia. Ki Patih Manik semakin murka mendengar penjelasan Pangeran Walangsungsang. Selanjutnya terjadilah perang tanding antara Ki Patih Manik  dengan Pangeran Walangsungsang. Keduanya saling mengeluarkan ilmu kesaktian. Perang tandingpun berlangsung berminggu-minggu, akan tetapi akhirnya Ki Patih Manik tidak dapat menandingi kesaktian Pangeran Walangsungsang.
Ki Patih Manik dengan kesaktiannya masuk dalam sebuah batu (watu-bhs Jawa) besar untuk bersembunyi. Mengetahui lawannya bersembunyi didalam batu, Pangeran Walangsungsang segera melaksanakan shalat sunnah di atasnya. Selesai melaksanakan shalat, batu besar tempat persembunyian Ki Patih Manik tiba-tiba retak dan belah menjadi dua. Ki Patih Manik meloncat keluar dan lari ke arah utara menghindari serangan Pangeran Walangsungsang.
Setelah Ki Patih Manik melarikan diri, Pangeran Walangsungsang meng-Islamkan Ki Gede Mayaguna, Nyi Gede Renda dan Nyi Mas Serang putrinya. Sedangkan hutan yang dibakar Ki Patih Manik dijadikan sebuah pedukuhan dan diberi nama Watubelah. Nama tersebut diambil dari batu tempat persembunyian Ki Patih Manik yang terbelah yang sekarang berada di Blok Sinumpuk.
Ki Patih Manik melarikan diri ke arah utara dengan cara menggelinding bagaikan bola (bundar) dan akhirnya berhenti di sebuah pedukuhan. Agar tidak dikenali Pangeran Walangsungsang yang menurut perkiraannya akan terus mengejarnya, ia menanggalkan seluruh pakaian kerajaannya dan menyamar menjadi rakyat biasa. Hingga sekarang pedukuhan tempat “persembunyian” Ki Patih Manik terkenal dengan nama pedukuhan Bunder.
Ki Gede Mayaguna dan istrinya sepakat menikahkan Nyi Mas Serang dengan Syeh Abdurahman salah seorang murid Pangeran Walangsungsang, yang bergelar Ki Gede Pasalakan. Setelah Ki Gede Pasalakan meninggal, ia dimakamkan di Pasalakan, sedangkan Ki Gede Mayaguna dan Nyi Mas Serang dimakamkan di Watubelah.
Sejak tahun 1998 status Desa Watubelah berubah menjadi Kelurahan Watubelah dan berada di wilayah Kecamatan Sumber.

Jumat, 10 Oktober 2014

Asal - usul Desa Kalikoa

Asal - usul Desa Kalikoa - Pada zaman dahulu kala ada seorang putra Raja Demak bernama Akhmad telah lama menuntut ilmu di pesantren. Sewaktu pulang dari pesantren, ia ditemui bupati yang mendapat pesan dari ayahandanya, agar ia menyusul ayahnya berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dengan dibekali kapal beserta isinya untuk keperluan selama dalam perjalanan. 

Dalam perjalanan ke tanah suci dengan mendapat pengawalan prajurit Demak, kapalnya terdampar di daratan Cirebon yang pada  waktu itu berada dibawah kekuasaan Prabu Anom.

Mendengar ada kapal terdampar, Prabu Anom segera memerintahkan Patih Wisa Geni untuk menyelidiki siapa orang yang ada dalam kapal tersebut. Patih Wisa Geni datang menemui mereka dan Ahmad menjelaskan bahwa mereka terdampar dengan tujuan semula akan ke tanah suci menyusul ayahnya menunaikan ibadah haji.

Setelah Patih Wisa Geni melaporkan  kepada Prabu Anom, lalu Sang Prabu menyarankan agar Ahmad tidak terus melanjutkan perjalanannya ke tanah suci, tetapi diminta untuk tinggal di keraton Cirebon. Lalu Ahmad bersama prajuritnya membongkar isi kapal dan mengikuti saran Sang Prabu untuk tinggal di Keraton Cirebon. 

Prabu Anom ingin mencoba kesaktian Ahmad, maka disuruhlah Ahmad menggambar/melukis. Ternyata gambar-gambar yang dilukisnya sangat bagus dan indah. Oleh karena itu Prabu Anom memberi nama Sumbing Blambang Kara kepada Ahmad.

Setelah Prabu Anom menguji lagi dengan menyuruh melukis istrinya. Semula Sumbing menjawab tidak bisa karena belum pernah melihat Sang Permaisuri. Namun Prabu Anom mengancam apabila sumbing tidak dapat melukis istrinya, maka Sumbing akan dibunuh. Akhirnya Sumbing menuruti perintah Prabu Anom untuk melukis Sang Permaisuri yang belum pernah dilihatnya itu.

Karena kesaktiannya, gambar yang dibuatnya ternyata bagus sekali sesuai dengan aslinya. Lukisan istri Prabu Anom persis sekali dengan orangnya, baik bentuk rambut, kuping, kulit, hidung, mata, buah dadanya, bahkan kemaluannya pun dilukisnya. Dan pada saat lukisannya selesai  dibuat, tinta yang dipakai melukis menetes tepat pada gambar kemaluan sang permaisuri. Semula lukisan tersebut akan disobek, tetapi mengingat ia akan dibunuh apabila tidak berhasil membuatnya, maka lukisan itu terpaksa ia serahkan kepada Prabu Anom. Ternyata lukisan tadi dipuji Prabu Anom, karena memang pada kemaluan istrinya ada tanda hitam, tepat dimana tinta Sumbing menetes.

Selanjutnya timbul kecurigaan Prabu Anom terhadap Sumbing, jangan-jangan Sumbing sudah melihat  tubuh istrinya dan berbuat tidak senonoh dengannya. lalu Sumbing dipindahkan ke Suryaraga (sekarang Sunyaragi). Sisa tinta yang dipakai melukis dibuang ke tengah laut dan dimakan ika Blakutak.

Timbul niat jahat Prabu Anom untuk menyingkirkan Sumbing karena takut kesaktiannya tersaingi. Oleh karena itu Prabu Anom memerintahkan Sumbing membuat layang-layang dengan gambar bunderan. Setelah itu Sumbing diperintah membuat taman di Sunyaraga dalam waktusatu hari, dan apabila tidak berhasil maka Sumbing akan dibunuh. Karena kesaktiannya, semua perintah Prabu Anom dapat diselesaikan Sumbing dengan cepat.

Setelah taman terwujud, Prabu Anom belum puas juga menguji kesaktian Sumbing. Selanjutnya Sumbing disuruh menaikan/mengejar layang-layang yang diterbangkannya. Setelah layang-layang terbang tinggi naik keatas, tiba-tiba layangan itu miring. Sumbing diperintahkan untuk membetulkan dengan cara naik melalui benang layang-layang tersebut. Lalu naiklah Sumbing ke atas dan pada saat itu niat jahat Prabu Anom untuk mencelakakan Sumbing segera dilaksanakan dengan cara memotong benang layang-layang tersebut.

Layang-layang itu pun putus dari benangnya, lalu terbang kesana kemari tanpa kendali, akhirnya disebuah desa bernama Gali(Sekarang Kalimulu), sedangkan Sumbing jatuh di negeri tar-tar Cina tersangkut disebatang pohon bambu yang bernama ori.

 Di Negeri Tar-tar Cina tersebut ada seorang pemuda yang sedang tidur dan bermimpi pergi memancing ke suatu daerah di bawah pohon bambu. Di dalam mimpinya itu, ia mendapat ikan kakap emas. Pada saat akan memancing di bawah pohon bambu, dimana Sumbing tersangkut, ia mendengar suara orang yang tak lain adalah Sumbing, meminta tolong untuk diturunkan. lalu Sumbing segera diturunkan dan dibawa kerumahnya. Saat itu di negeri tar-tar sedang berjangkit wabah penyakit yang susah disembuhkan.

Oleh karena Sumbing memiliki kesaktian, ia berhasil mengobati orang-orang yang sakit. Kejadian tersebut terdengar oleh raja yang pada saat itu anak gadisnya juga menderita sakit. Raja berjanji apabila Sumbing dapat menyembuhkan putrinya, maka dia kan dinikahkan dengannya.

Ternyata putri raja yang sangat cantik rupawan itu dapat disembuhkan. Sumbing kemudian dinikahkan dan mereka diberi modal untuk berdagang barang-barang keramik diluar tar-tar. barang dagangan keramik Sumbing laku keras, sehingga menimbulkan persaan iri hati pedagang lain. para pegdagang serentak bersatu menyerbu, tetapi Sumbing berhasil melompatdan menghilang dan berdiam di Karang Pondo disebelah selatan Warung Asem. Ditempat persembunyiannya Sumbing kedinginan, lalu ia membuat bakar-bakaran yang abunya berterbangan menjadi arang hingga jatuh ke daerah Mandiangin(tempat tersebut disebut Siareng), juga keselatan ke daerah Sigeber yang sekarang menjadi perbatasan Desa Kalikoa. Sumbing menjadi guru ngaji disana . Banyak Ki Gede yang belajar ngaji padanya.

Pada saat itu taman Sunyaraga mengalami kerusakan parah dan hanya dapat dibetulkan oleh orang Tar-tar dari daratan Cina. Lalu Prabu Anom mengutus Patih Wisa Geni untuk mencari orang Tar-tar yang pernah menolong Sumbing Balmbang Kara. Orang tersebut menyanggupi dengan syarat dia minta diberi upah istri Prabu Anom yang termuda, yaitu yang ke - 40 yang cantik jelita.

Prabu Anom menyetujuinya dan akhirnya taman Sunyaraga pun dapat dibetulkan dengan upah istri Prabu Anom yang ke-40 sesuai dengan perjanjian. Melihat kejadian itu Patih Wisa Geni menjadi iri hati dan mengajak orang tar-tar tadi bertanding.

Orang Tar-tar tersebut dapat dikalahkan oleh Patih Wisnu Geni. Kepalanya dipenggal hingga mental jauh ke Kedung Teja dan badannya tertinggal di Sunyaraga.
Saat kepalanya hampir jatuh ke Kedung Teja. orang tersebut mengucap Cikoa, maka oleh Sumbing ia dimakamkan di gedongan. Daerah tersebut sekarang disebut Kalikoa. Setelah meninggal, Sumbing terkenal dengan pangggilan "Syekh Ahmad Pangiran Panji" 

 
Copyright © 2015 Kabupaten Cirebon
Modif By Ari Saeful Bahri